Mengenal Tuberkulosis Spondylitis (TB Tulang Belakang / Penyakit Pott)

Mengenal Tuberkulosis Spondylitis (TB Tulang Belakang / Penyakit Pott)

Tuberkulosis spondylitis (Pott disease) adalah bentuk tuberkulosis ekstrapulmonal yang menyerang tulang belakang. Artikel ini menjelaskan penyebab, gejala, diagnosis, pengobatan, pencegahan, dan rekomendasi perawatan secara rinci.

Tuberkulosis spondylitis adalah infeksi tuberkulosis pada vertebra dan jaringan sekitarnya yang berisiko menyebabkan kehancuran struktur tulang, nyeri punggung kronis, deformitas (mis. kifosis), dan kelumpuhan bila tidak diobati. Penanganan melibatkan terapi obat antituberkulosis jangka panjang, kadang intervensi bedah, rehabilitasi, dan pemantauan jangka panjang.

Definisi dan istilah

Tuberkulosis spondylitis (atau TB vertebrae / Pott disease) adalah infeksi Mycobacterium tuberculosis yang menyerang tubuh vertebra, cakram intervertebral, dan jaringan lunak di sekitar tulang belakang. Disebut juga Pott disease untuk bentuk TB yang menyebabkan destruksi vertebra dan pembentukan abses paravertebral.

TB spondylitis adalah bentuk paling umum dari TB osteoarticular dan termasuk dalam kategori TB ekstrapulmonal. Sering ditemukan pada daerah dengan beban TB tinggi (negara berkembang), namun juga dapat muncul pada negara lain terutama pada kelompok imunokompromais. Dapat terjadi pada segala usia tetapi lebih sering pada dewasa muda dan orang lanjut usia, pada anak-anak dapat menyebabkan deformitas yang progresif.

Etiologi dan pathogenesis

  • Disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (jarang non-tuberkulosis mycobacteria).
  • Infeksi biasanya berasal dari penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus primer—seringkali paru—ke vertebra.
  • Bakteri menetap pada tubuh vertebra dan berkembang lambat, menyebabkan inflamasi granulomatosa, nekrosis kaseosa, dan destruksi tulang.
  • Destruksi vertebra dapat menyebabkan collapse vertebral, angulasi (kifosis), dan kompresi medula spinalis atau akar saraf.
  • Absces psoas/paravertebral sering terbentuk karena penyebaran ke jaringan lunak.

Manifestasi klinis (gejala & tanda)

  • Gejala awal: nyeri punggung lokal yang progresif (nyeri punggung bawah atau tengah), bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, sering tidak membaik dengan istirahat.
  • Kelelahan, penurunan berat badan, demam low-grade, berkeringat malam (gejala sistemik TB, tetapi mungkin tidak selalu ada).
  • Keterbatasan gerak daerah punggung, spasm otot paraspinal.
  • Deformitas tulang belakang: kifosis (punggung bungkuk) jika beberapa vertebra kolaps.
  • Gejala neurologis: bila ada kompresi medula/akar saraf → parestesia, kelemahan ekstremitas, gangguan sensorik, gangguan kontrol kandung kemih/bowel, hingga kelumpuhan.
  • Pembengkakan/benjolan di punggung atau pangkal paha jika abses psoas menonjol.

Lokasi yang sering terkena

Umumnya thorakal bawah dan lumbal atas paling sering terlibat, tetapi bisa mengenai segmen mana saja dari tulang belakang — servikal lebih jarang namun bila terjadi berisiko tinggi komplikasi neurologis.

Diagnosis

Diagnosis TB spondylitis menggabungkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan radiologi.

1. Pemeriksaan penunjang laboratorium

  • Darah lengkap: mungkin ada anemia, peningkatan laju endap darah (ESR) dan CRP (penanda inflamasi) — nonspesifik.
  • Tes terhadap TB: Mantoux/TST atau IGRA dapat membantu sebagai bukti paparan TB tetapi tidak konklusif untuk diagnosis lokal.
  • Mikrobiologi: aspirasi jaringan/abses atau biopsi tulang untuk Kultur mycobacteria dan pemeriksaan asam alkohol tahan (AFB) serta PCR (mis. GeneXpert) — merupakan konfirmasi mikrobiologis bila positif.

2. Pemeriksaan pencitraan

  • Rontgen tulang belakang: perubahan awal mungkin minimal; pada stadium lanjut terlihat destruksi vertebra, penyempitan ruang antarvertebra, collapse vertebral, cibin kifosis.
  • CT scan: menilai kerusakan tulang secara rinci; baik untuk perencanaan bedah.
  • MRI (paling sensitif untuk lesi dini): menunjukkan keterlibatan sumsum tulang vertebra, cakram intervertebralis, abses paravertebral, dan kompresi medula; sangat berguna untuk menilai keterlibatan saraf.
  • Ultrasonografi: berguna untuk deteksi abses psoas/paravertebral yang bisa dijadikan panduan aspirasi.

3. Biopsi/aspirasi

  • Biopsi jaringan vertebra atau aspirasi abses untuk pemeriksaan histopatologi (granuloma, nekrosis kaseosa) dan kultur bakteri — gold standard diagnostik bila dilakukan.

Diagnosis banding (differential)

  • Spondylodiscitis bakterial biasa (staphylococcus aureus)
  • Tumor vertebra (metastasis, plasmositoma)
  • Brucellosis vertebra (pada area endemis)
  • Osteoporosis dengan fraktur kompresi
  • Infeksi jamur (jarang)

Pengobatan

Pendekatan pengobatan TB spondylitis umumnya kombinasi terapi antituberkulosis medis jangka panjang dan intervensi bedah bila diperlukan.

1. Terapi obat (farmakoterapi)

  • Regimen anti-TB standar (sesuai pedoman nasional/WHO): fase intensif kombinasi 4 obat (Isoniazid, Rifampisin, Pyrazinamide, Ethambutol) diikuti fase lanjutan dengan dua obat (Isoniazid + Rifampisin).
  • Durasi pengobatan pada TB vertebra biasanya lebih lama dari TB paru: umumnya minimal 9—12 bulan, beberapa kasus sampai 12—18 bulan tergantung respons klinis/radiologis, keberadaan kelainan neurologis, dan rekomendasi nasional.
  • Penting: penilaian resistensi obat (kultur + uji sensitivitas atau pemeriksaan molekuler) pada kasus yang tidak merespon atau riwayat TB sebelumnya.

Catatan penting: skema, dosis, dan durasi harus mengikuti pedoman nasional atau WHO dan ditentukan oleh dokter yang merawat. Jangan memulai/menyetop obat tanpa pengawasan medis.

2. Indikasi tindakan bedah

  • Kompresi saraf medula/akar saraf yang progresif → dekompresi dan stabilisasi.
  • Instabilitas vertebral atau collapse yang mengancam struktur/fungsi → stabilisasi bedah (fusi, instrumentasi).
  • Absces paravertebral besar yang memerlukan drainase atau yang tidak merespon terapi konservatif.
  • Diagnosis tidak pasti → biopsi bedah untuk konfirmasi.
  • Bedah bertujuan: mengambil jaringan untuk diagnosis, dekompresi saraf, koreksi deformitas, dan stabilisasi mekanik.

3. Terapi suportif & rehabilitasi

  • Istirahat relatif dan brace/orthosis (mis. korset dorsolumbal) pada beberapa kasus untuk mengurangi nyeri dan stabilisasi sementara.
  • Fisioterapi dan rehabilitasi pasca-perawatan aktif untuk mengembalikan kekuatan dan fungsi.
  • Nutrisi adekuat, pengelolaan komorbid (diabetes, HIV), serta pengawasan efek samping obat (mis. hepatotoksisitas, neuropati isoniazid, toksisitas penglihatan ethambutol).

Komplikasi

  • Kelumpuhan neurologis (parsial atau lengkap) jika ada kompresi medula spinalis.
  • Deformitas permanen (kifosis, gibbus) → masalah fungsional dan kosmetik.
  • Abses kronis (psoas/paravertebral) dan fistula.
  • Resistensi obat jika terapi tidak adekuat → MDR-TB (Multidrug-resistant TB).
  • Komplikasi obat (hepatitis obat, neuropati, gangguan penglihatan).

Prognosis

  • Bila terdiagnosis dini dan mendapat terapi anti-TB adekuat, prognosis baik: nyeri menurun, infeksi teratasi, kelumpuhan dapat dicegah atau diringankan.
  • Pada kasus terlambat atau telah terjadi kerusakan struktural dan neurologis serius, risiko cacat fungsional atau kelumpuhan permanen meningkat.

Pencegahan dan kesehatan masyarakat

  • Deteksi dini TB paru dan pengobatan adekuat mengurangi reservoir infeksi.
  • Skrining kontak keluarga dan orang serumah dengan pasien TB.
  • Pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan (ventilasi, masker) untuk mencegah penularan droplet.
  • Vaksinasi BCG pada bayi membantu mengurangi risiko TB berat pada anak, meski efektivitas terhadap TB tulang tidak absolut.
  • Edukasi pasien tentang kepatuhan pengobatan untuk mencegah resistensi.

Edukasi pasien — poin penting untuk disampaikan

  • TB tulang belakang butuh pengobatan lama; jangan berhenti obat walau gejala membaik.
  • Pantau efek samping obat (mual berat, kuning pada mata/ kulit, gangguan penglihatan, mati rasa/kesemutan) dan segera laporkan.
  • Istirahat seimbang, dukungan nutrisi, dan fisioterapi membantu pemulihan.
  • Pada muncul kelemahan tungkai, gangguan jalan, atau gangguan buang air—segera ke rumah sakit.

FAQ singkat

  • Apakah TB tulang belakang menular?
    TB vertebrae sendiri bukan mode penularan spesifik — penularan TB umumnya melalui droplet dari paru. Banyak pasien TB vertebrae memiliki atau pernah memiliki TB paru yang menular.
  • Berapa lama pengobatan?
    Biasanya lebih lama dari TB paru — sering 9–12 bulan atau lebih; tergantung kondisi dan pedoman setempat.
  • Apakah perlu operasi?
    Hanya jika ada indikasi seperti kompresi saraf progresif, instabilitas, atau abses yang tidak merespon terapi obat.