TB kelenjar adalah bentuk tuberkulosis yang paling sering menyerang kelenjar limfa servikal. Artikel ini menjelaskan definisi, penyebab, tanda-gejala, pemeriksaan penunjang, pilihan pengobatan, komplikasi, dan pencegahan secara rinci.
Pengertian TB Kelenjar
TBC kelenjar adalah penyakit yang menyerang kelenjar getah bening. Penyakit ini biasanya ditandai dengan munculnya benjolan atau pembesaran pada area tubuh tertentu, seperti leher. TB kelenjar harus diatasi dengan bantuan dari dokter.
TB kelenjar (juga dikenal sebagai tuberkulosis limfadenitis atau scrofula) adalah infeksi kelenjar limfa yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis atau lebih jarang oleh bakteri tipe Mycobacterium bovis dan mycobacteria non-tuberkulosis. Di banyak negara dengan beban TB menengah-tinggi, TB kelenjar merupakan bentuk TB ekstra-pulmoner yang paling sering ditemukan, terutama pada anak-anak dan dewasa muda.
Epidemiologi singkat
- TB kelenjar merupakan salah satu manifestasi TB ekstra-pulmoner yang umum di negara endemis TB.
- Lebih sering mengenai kelenjar limfa servikal (leher), namun dapat melibatkan kelenjar aksila, inguinal, mediastinum, atau intraabdominal.
- Faktor risiko: paparan TB, status imun yang menurun (mis. HIV, penggunaan kortikosteroid atau imunosupresan), malnutrisi, dan usia muda.
Etiologi dan Patogenesis
- Penyebab utama: Mycobacterium tuberculosis.
- Rute infeksi: biasanya melalui penyebaran hematogen atau limfatik dari fokus paru (aktif atau laten) atau inokulasi langsung (jarang).
- Patogenesis: bakteri memicu reaksi granulomatosa di dalam kelenjar limfa, dengan pembentukan granula dan kadang-kadang kazeifikasi (nekrosis matchin). Dalam fase lanjut, kelenjar bisa membentuk abses dan sinus/ulserasi ke kulit.
Gejala dan Temuan Klinis
- Pembesaran kelenjar limfa yang tidak nyeri atau sedikit nyeri, paling sering di leher (anterior atau posterior servikal).
- Ukuran bervariasi: dari kecil (1–2 cm) hingga besar. Awalnya mungkin kenyal, kemudian menjadi lebih keras dan dapat menyatu (matted).
- Dalam beberapa kasus, muncul perubahan kulit di atas kelenjar: eritema, penipisan, ulserasi, dan sinus yang mengeluarkan cairan kental (caseous).
- Gejala sistemik mungkin minimal atau tidak ada: demam ringan, penurunan berat badan, malaise, berkeringat malam.
- Jika ada TB paru bersamaan: batuk, hemoptisis, sesak nafas.
Diagnosis
Diagnosis TB kelenjar memerlukan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang mikrobiologis dan histopatologis.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
- Riwayat kontak TB, gejala sistemik, faktor risiko imun.
- Lokasi, jumlah, ukuran, konsistensi, mobilitas kelenjar; adanya fistula/ulser.
Pemeriksaan penunjang
- Tes Mantoux (TST) atau Interferon-Gamma Release Assays (IGRA)
- Dapat membantu menilai paparan TB/infeksi laten, namun tidak membedakan antara TB pulmonal dan kelenjar.
- Sinar-X dada / CT
- Untuk mencari fokus paru yang bersamaan atau mediastinal involvement.
- USG kelenjar
- Menilai struktur internal, membantu panduan biopsi atau aspirasi jarum halus (FNA).
- FNA (Fine Needle Aspiration) ± kultur & PCR (mis. Xpert MTB/RIF atau PCR TB)
- FNA sangat berguna: dapat menunjukkan gambaran sitologi granuloma dengan/ tanpa kazeifikasi; kiriman cairan dapat diperiksa dengan pewarnaan Ziehl–Neelsen (AFB), kultur mycobacterial, dan PCR molekular untuk mendeteksi DNA M. tuberculosis serta resistensi rifampisin.
- Kultur adalah “gold standard” mikrobiologis tetapi memerlukan waktu.
- Biopsi eksisional (kelenjar diangkat penuh)
- Jika FNA tidak konklusif atau bila perlu konfirmasi histopatologi. Histologi biasanya menunjukkan granuloma epitelioid dengan sel raksasa Langhans dan necrosis kazeosa.
- Pemeriksaan HIV dan pemeriksaan lain
- Karena hubungan erat antara TB ekstra-pulmoner dan imunosupresi, uji HIV direkomendasikan.
Diagnosis Diferensial
- Limfadenitis bakteri lain (staphylococcal/streptococcal), infeksi kelenjar dari bakteri non-tuberkulosis, toksoplasmosis, mononukleosis, brucellosis, cat-scratch disease, malignansi (limfoma, metastasis), penyakit granulomatosa lainnya (sarcoidosis).
Pengobatan
Pengobatan utama adalah terapi antituberkulosis sistemik sesuai pedoman nasional/WHO. Manajemen bedah dapat diperlukan pada beberapa kasus.
Terapi farmakologis
- Regimen kombinasi obat TB (obat lini pertama): umumnya fase intensif 2 bulan dengan 4 obat (isoniazid, rifampisin, pyrazinamide, ethambutol) diikuti fase lanjutan 4 bulan (isoniazid + rifampisin) — namun protokol tepat dapat bervariasi menurut pedoman setempat dan status resistensi.
- Durasi pengobatan untuk TB kelenjar seringkali sama atau sedikit lebih panjang dibanding TB paru (umumnya 6 bulan), tetapi pada beberapa kasus ekstra-pulmoner terdapat rekomendasi perpanjangan tergantung respons klinis dan lokasi. Ikuti pedoman nasional/WHO dan keputusan dokter spesialis penyakit menular.
Peran bedah
- Drainase incision & drainage untuk abses yang menimbulkan koleksi purulen (tapi hati-hati: drainase semata tanpa terapi obat bukan solusi).
- Eksisi kelenjar (complete excision) kadang dilakukan bila diagnosis belum pasti, untuk jaringan biopsi, atau bila kelenjar berulang/menyebabkan masalah kosmetik atau komplikasi.
- Hindari pembedahan besar bila tidak diperlukan; pengobatan medis adalah utama.
Terapi tambahan
- Analgesik, perawatan luka untuk sinus, nutrisi baik, dan pengobatan penyakit penyerta (mis. HIV).
- Konsultasi spesialis penyakit menular dan/atau bedah kepala leher bila diperlukan.
Manajemen pada pasien dengan HIV atau imunosupresi
- Koinfeksi HIV dapat mengubah presentasi klinis dan memerlukan koordinasi pengobatan TB dan terapi antiretroviral (ART).
- Interaksi obat (mis. rifampisin dengan beberapa ART) harus diperhatikan; lakukan konsultasi dengan spesialis infeksi.
Komplikasi
- Pembentukan sinus kronis dan jaringan parut (keloid, kontraktur).
- Penyebaran ke organ lain (jarang jika diobati).
- Komplikasi bedah: kerusakan saraf lokal, jaringan parut.
- Resistensi obat jika pengobatan tidak adekuat atau tidak patuh.
Prognosis
- Bila didiagnosis dan diobati dengan baik, prognosis TB kelenjar umumnya baik.
- Respons klinis sering terlihat setelah beberapa minggu pengobatan — kelenjar dapat mengecil secara bertahap, namun residu jaringan fibrotik mungkin tetap ada meskipun infeksi sudah sembuh.
Pencegahan dan Kontrol
- Deteksi dini kasus TB paru dan pengobatan adekuat untuk mengurangi penularan.
- Skrining kontak dekat bila ada kasus TB aktif.
- Vaksin BCG dapat memberikan perlindungan terhadap bentuk TB berat pada anak (efek terhadap TB ekstra-pulmoner bervariasi).
- Perkuat program pengawasan TB, edukasi pasien agar minum obat lengkap (DOT bila diperlukan).
Pesan untuk Pasien
- Jika Anda menemukan benjolan di leher yang tidak hilang dalam beberapa minggu, periksakan ke layanan kesehatan.
- Pengobatan TB kelenjar memerlukan beberapa bulan obat; penting untuk minum obat sesuai resep hingga akhir.
- Jangan mencoba membuka abses sendiri.
- Jika punya HIV atau obat imunosupresif, beri tahu dokter — pengobatan perlu disesuaikan.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
- Apakah TB kelenjar menular? TB kelenjar sendiri kurang menular dibanding TB paru; tetapi sumber infeksi sering berasal dari orang dengan TB paru.
- Berapa lama pengobatannya? Umumnya 6 bulan, namun tergantung pedoman lokal dan kondisi pasien.
- Apakah diperlukan operasi? Tidak selalu; operasi dipertimbangkan bila ada abses, sinus kronis, atau kebutuhan diagnostik.
Note : “Artikel ini berdasarkan pedoman klinis umum, untuk keputusan terapi khusus, konsultasikan dokter atau pedoman nasional setempat.”

